15 September 2017 16:10 WITA

Kisah Pencipta Aplikasi AyoPoligama yang Menuai Kontroversi

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Kisah Pencipta Aplikasi AyoPoligama yang Menuai Kontroversi

RAKYATKU.COM - Poligami memang masih menjadi kontroversi di Indonesia sehingga ketika aplikasi dan situs biro jodoh AyoPoligami diluncurkan pada awal tahun, langsung menjadi pusat perhatian publik.

Diluncurkan pada 12 April, aplikasi tinder ala syariah yang bisa diunduh melalui gawai dengan sistem android ini, menjadi ajang untuk mempertemukan pengguna lelaki dan perempuan yang tertarik membuat 'keluarga besar,' baik lajang maupun yang sudah menikah.

Sejak pertama diluncurkan hingga 9 September, aplikasi ini sudah diunduh 37.000 kali dan memiliki anggota sebanyak 50.000. Namun ternyata aplikasi ini banyak disalahgunakan oleh anggotanya sendiri. Seiring meningkatnya popularitas aplikasi ini, jumlah akun palsu pun semakin bertambah. Demikian juga dengan banyaknya obrolan seks di platform tersebut.

Akhirnya, pendiri AyoPoligami, Lindu Cipta Pranayama memutuskan untuk menghentikan sementara untuk menyortir akun-akun palsu di aplikasi tersebut dan berencana untuk meluncurkan kembali pada 5 Oktober. Nantinya, aplikasi ini akan lebih memperketat penyaringan anggota. Dengan begitu, hanya orang-orang yang benar-benar serius yang dapat mengakses situs dan aplikasi ayopoligami.

"Kemarin ada masalah, semua orang bisa log in, register pakai email secara asal-asalan. Kita kan bikin wadah, tapi disalahgunakan oleh orang banyak. Ini bukan kesalahan kita, tapi kita harus melindungi member yang bener-bener cari jodoh, bukan asal register tiba-tiba chat nakal," kata Lindu dilansir laman BBC, Jumat (12/9/2017).

Lindu sendiri mengaku mendapat apa yang disebutnya berkah dari aplikasi yang dibuatnya. Ia yang sebelumnya kesulitan mendapat jodoh akhirnya menikah dengan salah satu anggota AyoPoligami, Wulandari Septi Amanah dan menjadi pasangan pertama yang berhasil dijodohkan melalui aplikasi tersebut.

(Pernikahan pendiri Ayopoligami.com dan salah satu anggotanya, Wulandari Septi Amanah)

Lindu menceritakan alasannya membuat aplikasi ini karena diilhami oleh pengalaman pribadi. Ia mengaku sudah berkali-kali mencoba situs jodoh online dan aplikasi biro jodoh, baik lokal maupun aplikasi internasional, namun tidak kunjung mendapatkan sasarannya.

Lantaran bekerja di bidang teknologi informasi, lalu muncul ide untuk membuat aplikasi biro jodohnya sendiri. Untuk membedakan dengan aplikasi biro jodoh yang lain, ia memutuskan untuk memasukkan pilihan bagi pria-pria yang sudah memiliki istri untuk berpoligami.

"Pas Tahun 2017 kita lihat nih kalau kita head-to-head sama yang lain kita bakal kalah nama, kalah pamor dan kalah udah nikah. Terus pas saya lihat berita-berita yang saat ini (ramai) kan masalah poligami nih. Dari situ kita berpikir bagaimana kita nambahin pilihan bagaimana pria beristri menikah lagi," jelasnya.

Tentu saja keberadaan aplikasi semakin menambah kontroversi soal poligami. Muncul reaksi bermacam-macam dari media sosial.

Untuk mengantisipasi banyaknya akun palsu dan chat nakal, Lindu membuat persyaratan yang lebih ketat untuk calon anggotanya.

Bagi mereka yang masih melajang, mereka diwajibkan untuk menyertakan kartu tanda penduduk (KTP)-nya. Sementara untuk yang duda, mereka harus menyertakan KTP dan surat cerai.

Untuk mereka yang masih memiliki istri dan ingin poligami, persyaratannya lebih ruwet lagi, yaitu menyertakan KTP, surat izin RT/RW dan tanda tangan istri.

"Dan kita menambahkan pilihan untuk wanita yang mencarikan istri untuk suaminya. Jadi ada KTP istri, surat izin dari istri dan KTP suami untuk wanita yang mencarikan istri untuk suaminya. Itu ternyata ada yang mau," bebernya.

Ia juga mengharuskan anggotanya untuk menikah di Kantor Urusan Agama. Dengan demikian, secara otomatis si pencari jodoh mendapat legalitas untuk menikah lagi.