29 August 2017 15:59 WITA

Telkomsel Memangkas Kesenjangan Digital di Tanah Air

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Telkomsel Memangkas Kesenjangan Digital di Tanah Air
Base Transceiver Stations (BTS) Telkomsel di pelosok Papua.(ist)

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Mencerdaskan anak bangsa di pelosok Indonesia sudah menjadi tugasnya. Dua guru muda ini rela meninggalkan mapannya fasilitas perkotaan demi mengemban tugas mulia. Adalah Sri Wahyuni dan Milawati, dua pengajar jebolan Program Sarjana Mengajar Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T).

Sri mengajar di distrik Kaitaro, Teluk Bintuni, Papua Barat. Sedangkan Milawati di Kecamatan Kelay, Berau, Kalimantan Timur. Bagi mereka, Indonesia adalah 'rumah' dan penduduknya adalah 'keluarga'. 

"Ini semacam panggilan jiwa untuk berbagi ilmu dengan mereka di pedalaman. Membukakan cakrawala mereka, mengenal banyak karakter peserta didik," kata Mila saat ditemui di Asrama SM3T, Jalan Emmy Saelan III, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, belum lama ini.

Menurut dia, pendidikan bagi anak bangsa harus sama bermutu. Sarana dan prasarananya mesti sama dilengkapi. "Saya ingin ikut mengukir sejarah melanjutkan perjuangan 'mencerdaskan kehidupan bangsa' untuk anak-anak di daerah pedalaman," sambung Sri Wahyuni.

Sri Wahyuni saat mengajari siswa di distrik Kaitaro, Teluk Bintuni, Papua Barat.(ist)

Dua pengajar muda ini tabah mengajar di daerah yang minim sarana dan prasarana. Di tengah keterbatasan bahan ajar, buku referensi, dan alat praktik, mereka berimprovisasi. Keduanya terkadang menggunakan bahan-bahan dari alam bebas. Bahkan mereka bisa menyusuri hutan untuk mencari bahan ajar kreatif. 

Mereka juga ke kawasan pusat kabupaten untuk berselancar di dunia maya. Telkomsel, satu-satunya jaringan provider yang bisa digunakan. Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini memang tengah sibuk menghadirkan layanan komunikasi terbaik dan akses internet di seluruh negeri.

"Di tempatku, hanya ada satu provider, Telkomsel. Jaringannya masih 3G, tapi sudah cukup untuk dipakai searching internet. Sangat membantu di tengah keterbatasan," kata Mila. 

Yuni--sapaan akrab Sri Wahyuni--menjelaskan, saban bulan dia dan teman-temannya memanfaatkan jaringan 3G untuk mencari video ataupun gambar-gambar menarik sebagai alat bantu mengajar.

"Betul-betul terbantu dengan adanya jaringan Telkomsel. Sebenarnya dimaklumi jika tidak ada operator mau bangun tower. Selain medan yang berat, jumlah penduduknya juga tidak begitu banyak. Tapi syukurlah masih ada Telkomsel yang berbaik hati," kata Yuni menceritakan kondisi distriknya.

Yuni maupun Mila punya satu mimpi. Kelak tidak perlu ke pusat kabupaten untuk berselancar di internet. Seluruh masyarakat di distriknya dapat membuka jendela dunia bahkan berkeliling dunia lewat internet. 

Mereka menyimpan mimpi besar, masyarakat di daerahnya masing-masing terkoneksi dengan dunia luar. Dikenal dan anak-anaknya mendapatkan kesempatan belajar seluas-luasnya. Mimpi keduanya cukup besar. Dan kehadiran Telkomsel dengan visi yang sama, tentu bisa mewujudkan mimpi ini. Lewat program Merah Putih-nya Telkomsel bergerak. 

63 BTS Merah Putih di Perbatasan 

Telkomsel berjanji bakal membangun 63 Base Transceiver Stations (BTS) di perbatasan tahun ini. Dalam upaya mendukung pemerintah meratakan akses telekomunikasi di seluruh Indonesia, Telkomsel terus melakukan pembangunan infrastruktur jaringan hingga ke pelosok. 

Termasuk di wilayah-wilayah berpenduduk yang belum memperoleh akses telekomunikasi. Sebanyak 63 BTS Merah Putih yang akan digelar Telkomsel pada tahun ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Seperti di NTT (16 BTS), NTB (7 BTS), Maluku (11 BTS), Sulawesi (21 BTS), Papua (5 BTS), dan Kepri (3 BTS).

Hadirnya 63 BTS baru di lokasi-lokasi tersebut diharapkan akan mampu melayani kebutuhan komunikasi dari sekitar 120 ribu warga masyarakat yang sebelumnya memiliki kesulitan mengakses layanan telekomunikasi. 

Sejak diluncurkan pertama kali di tahun 2008, proyek Telkomsel Merah Putih telah berhasil membuka jaringan di sekitar 450 lokasi dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia. Kini, jarak bukan lagi kendala. Mereka yang berada di pelosok tidak akan lagi terkucilkan. Mereka yang jauh kini dapat dijangkau. Persatuan bangsa semakin mudah untuk dijaga.

Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah mengatakan, sejak beroperasi 22 tahun yang lalu, Telkomsel memiliki visi untuk menyatukan Indonesia melalui hadirnya layanan telekomunikasi di berbagai lokasi di Indonesia. Sehingga masyarakat bisa saling terhubung kapan pun dan di mana pun. 

"Komitmen ini terus kami pertahankan hingga saat ini, dimana kami konsisten membangun daerah-daerah pelosok agar tidak terisolasi dari sisi telekomunikasi," katanya. 

Ririek menambahkan, saat ini telekomunikasi tidak hanya menjadi kebutuhan utama masyarakat di kota besar namun juga hingga ke pelosok. Untuk itu Telkomsel terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui layanan seluler yang  dihadirkan.

Sehingga lebih banyak lagi masyarakat di pelosok dapat menikmati layanan telekomunikasi dengan standar kualitas yang sama dengan wilayah lainnya di seluruh Indonesia.
 
"Kami berharap hadirnya layanan ini dapat turut mendorong perubahan yang lebih baik di berbagai sektor di wilayah terkait," kata dia.

Di program Merah Putih, Telkomsel menerapkan teknologi berkonsep remote solution system yang dinamakan: Very Small Aperture Terminal-Internet Protocol (VSAT-IP). System yang berbasis satelit ditambah dengan teknologi power supply dan menggunakan solar panel system.

Teknologi ini merupakan solusi layanan komunikasi yang cocok untuk diterapkan di daerah terpencil dengan infrastruktur terbatas dan kondisi geografis ekstrim, seperti pedesaan dan wilayah terdepan Indonesia. Dengan diimplementasikannya teknologi ini, pelanggan dapat menikmati layanan suara, SMS, dan data dengan kualitas yang memadai.