02 August 2017 12:19 WITA

Web Telegram Segera Kembali Aktif

Editor: Mulyadi Abdillah
Web Telegram Segera Kembali Aktif
CEO Telegram, Pavel Durov menemui Menkominfo Rudiantara, di Kantor Kementerian Kominfo, Selasa (1/8). Sumber Foto: Setkab

RAKYATKU.COM - Web Telegram dipastikan kembali aktif pada pekan ini pasca diblokir atas permintaan Kementerian Komunikasi dan Informatika. 

Pencabutan pemblokiran itu menyusul itikad baik dan komitmen dari Telegram untuk mengelola dan menangani isu-isu yang mengancam negara dalam penyebaran isu-isu terorisme dan konten radikalisasi.

"Minggu ini akan segera dipulihkan," tegas Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Samuel A Pangerapan dikutip di laman Kementerian Kominfo, Rabu (2/8/2017).

Diketahui, CEO Telegram, Pavel Durov telah bertemu dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara di Kantor Kementerian Kominfo, Selasa (1/8). Pertemuan ini membahas penanganan isu terorisme dan konten radikal yang berkembang dalam platform Telegram.

“Saya mengapresiasi Telegram yang sangat responsif dalam menyikapi isu ini,” ujar Rudiantara. 

Terkait dengan penanganan isu-isu terorisme, CEO Telegram, Pavel Durov juga mempunyai komitmen yang sama. “Telegram sangat peduli terhadap ancaman terorisme global, terutama untuk negara seperti Indonesia. Penting buat Pemerintah Indonesia dan Telegram untuk membuat Joint Statement terkait hal ini,” jelas Durov.

Sebagai tindak lanjut dari komitmen ini, Kemenkominfo dan Telegram sepakat untuk mengatur dan mengelola prosesnya. Hal itu dilakukan karena untuk menghadapi ancaman terorisme dan radikalisasi dibutuhkan kecepatan bertindak. Untuk itu, baik Rudiantara dan Pavel Durov sepakat prosesnya akan dibahas dalam pertemuan yang melibatkan tim teknis.

Kronologi Pemblokiran Telegram

Keputusan pemblokiran terhadap 11 DNS Telegram berbasis web dilakukan setelah Kementerian Komunikasi dan Informatika mengirimkan permintaan melalui email.

Permintaan untuk menutup ribuan content terorisme dan radikalisasi yang tersebar dalam 11 DNS itu dikirim mulai 29 Maret 2016 sampai 11 Juli 2017. Namun semua permintaan tersebut tidak mendapatkan tanggapan.

Mengenai hal itu, sebelumnya, CEO Telegram Pavel Durov menyampaikan permohonan maaf atas kekeliruan tersebut dan mengakui telah menerima email komunikasi dari Kemkominfo, pada 16 Juli 2017. Untuk menuntaskan isu tersebut, Kemkominfo mengundang Pavel Durov ke Indonesia.