19 May 2017 16:16 WITA

Pengadilan: Facebook Tidak Bisa Disalahkan Atas Teror Israel

Editor: Suriawati
Pengadilan: Facebook Tidak Bisa Disalahkan Atas Teror Israel
Foto: Getty Images

RAKYATKU.COM - Facebook saat ini sedang menghadapi beberapa tuntutan hukum yang menuduh sosial media ini memungkinkan penyebaran terorisme di situsnya. 

Sekarang, salah satu dari kasus tersebut akhirnya mencapai sebuah resolusi, dan itu berpotensi mempengaruhi keputusan pengadilan lain, untuk tuntutan hukum lainnya.

BACA JUGA: Facebook Akan Cegah Penyebaran Konten dari Web Berkualitas Rendah

Menurut The Verge, sebuah pengadilan federal di dstrik timur New York telah menolak sebuah tuntutan yang meminta Facebook bertanggung jawab secara hukum atas kematian lima orang dalam serangan teroris Palestina di Israel pada tahun 2015.

Keluarga mereka menggugat Facebook tahun lalu, dan mengklaim bahwa situs web tersebut "memainkan peran penting dalam kemampuan Hamas untuk melakukan aktivitas terorisnya."

Mereka menuduh Facebook telah mempermudah pelaku untuk "mengkomunikasikan, merekrut anggota, merencanakan dan melakukan serangan, serang menyerang musuh-musuhnya."

Mereka meminta ganti rugi $1 miliar dan mendesak perusahaan untuk berhenti memberikan layanannya kepada teroris.

Namun, pengadilan memutuskan bahwa Communications Decency Act, Section 230 memberikan kekebalan pada Facebook dari tuntutan hukum seperti itu.

Bagian tersebut menyatakan bahwa layanan seperti Facebook tidak dapat dianggap bertanggung jawab atas tindakan pengguna mereka.

CEO Facebook, Mark Zuckerberg

Dalam sebuah pernyataan yang dikirim ke The Verge , Facebook mengatakan, "kami menghargai pertimbangan pengadilan mengenai hal ini. Standar Komunitas kami memperjelas bahwa tidak ada tempat di Facebook untuk kelompok yang terlibat dalam aktivitas teroris atau konten yang mengungkapkan dukungan untuk aktivitas semacam itu, dan kami mengambil tindakan cepat untuk menghapus konten ini saat Dilaporkan kepada kami, kami bersimpati dengan korban dan keluarga mereka."

BACA JUGA: 10 Tips dari Facebook Tangkal Berita Hoax

Facebook bukan satu-satunya perusahaan teknologi yang menghadapi pertempuran hukum yang berkaitan dengan aktivitas ekstremis di situs mereka.

Akhir tahun lalu, keluarga korban penembakan klub malam Pulse menggugat Facebook dan Google karena memberikan "dukungan material" kepada orang bersenjata yang berjanji setia kepada ISIS.

Sebelum itu, istri salah satu korban yang meninggal saat melakukan penembakan di Yordania menuntut Twitter karena mengizinkan ISIS menyebar di situsnya.

Baru-baru ini, keluarga korban penembakan San Bernardino juga mengajukan tuntutan hukum terhadap Twitter, Facebook dan Google karena membiarkan aktivitas teroris berkembang di platform mereka.