Rabu, 19 Juni 2019 16:54 WITA

Panel Surya Akan Dipasang di Lautan Dunia untuk Kurangi Gas Rumah Kaca

Editor: Suriawati
Panel Surya Akan Dipasang di Lautan Dunia untuk Kurangi Gas Rumah Kaca
Shutterstock

RAKYATKU.COM - Jutaan peternakan surya akan dipasang di lautan untuk melawan gas rumah kaca.

Dalam sebuah makalah baru, para ilmuwan dari Norwegia dan Swiss mengusulkan pembangunan 11 juta pulau buatan berbasis laut.

Masing-masing pulau akan memiliki ukuran sebesar lapangan sepak bola, untuk membantu mengurangi dampak bencana dari bahan bakar fosil berbasis karbon.

Untuk mencapai tujuan mereka, pulau akan dilengkapi dengan sejumlah teknologi tenaga surya.

Itu dapat mengubah sinar matahari menjadi listrik, yang kemudian akan digunakan untuk menyalakan ekstraksi hidrogen dan CO2 dari air laut. 

Dalam prosesnya, hidrogen dan CO2 kemudian akan digabungkan untuk membentuk metanol, yang dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk keperluan lain, seperti menggerakkan mobil, kapal, dan mesin berbasis bahan bakar fosil lainnya. 

Metode ini dijelaskan dalam sebuah makalah baru yang diterbitkan dalam Prosiding National Academy of Sciences (PNAS).

Namun, proyek ini mungkin akan menghadapi tantangan besar.  Pulau-pulau harus dikelompokkan dalam kelompok 70 dan akan mencakup sekitar satu kilometer persegi.

Loading...

Juga, cluster mengambang harus ditempatkan di perairan yang relatif ringan, untuk menghindari gelombang raksasa dan badai.  Di antara lokasi potensial adalah lautan di dekat Asia Tenggara, Australia, dan Teluk Arab.

Hambatan lain yang lebih mendasar dalam mewujudkan itu adalah perangkat. Seperti dilansir Newsweek, peneliti saat ini masih mencoba membangun perangkat yang mampu memisahkan CO2 dari air laut dalam skala besar.

"Tantangan terbesar adalah pengembangan perangkat skala besar untuk mengekstraksi CO2 dari air laut," kata penulis studi, Andreas Borgschulte, kepada Newsweek. 

"Proses ini adalah satu-satunya dari keseluruhan sistem yang belum dikembangkan sepenuhnya."

Seorang pakar yang diwawancarai oleh Forbes juga menyoroti fakta bahwa proses memanfaatkan karbon dari air laut juga kemungkinan besar akan mahal.

"Komponen lain yang dibutuhkan untuk ide ini, mengekstraksi CO2 dari air laut dan kemudian mengubahnya menjadi bahan bakar. Bagian ini akan sangat intensif energi dan mahal," kata Henry Snaith, Profesor Fisika di Universitas Oxford pada Forbes.

Loading...
Loading...